KJJTI Indonesia Malang Raya Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis yang Hilang Saat Liput Gunung Anak Krakatau
Malang Raya, sumbanews.site, Solidaritas insan pers kembali ditunjukkan menyusul hilangnya lima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan setelah melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Menindaklanjuti imbauan Dewan Pers, Komunitas Jurnalis Jaringan Terpadu Indonesia (KJJTI) Malang Raya menggelar doa bersama secara serentak pada Senin (21/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus dukungan moral bagi keluarga lima jurnalis yang masih menunggu kabar keberadaan mereka.
Ketua KJJTI Malang Raya, Naning Suryaning, S.E., menyampaikan duka mendalam atas musibah yang menimpa para jurnalis tersebut.
“Saya Naning Suryaning, S.E., selaku Ketua KJJTI Malang Raya, turut berduka cita sedalam-dalamnya atas saudara kita lima jurnalis yang sampai saat ini belum ditemukan,” ujarnya.
Kelima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi atau Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance. Mereka merupakan bagian dari rombongan yang juga terdiri atas tiga orang lainnya, yakni kapten kapal Warta (55), ABK Surakman (60), dan guide Heriyanto (49).
Berangkat untuk Meliput Aktivitas Anak Krakatau
Peristiwa tersebut bermula pada Senin, 7 September 2026. Rombongan berangkat menggunakan kapal cepat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Salah satu jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi terakhir dengan rombongan dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.04 WIB. Setelah itu, kontak dengan kapal beserta seluruh penumpangnya terputus.
Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian dengan memperluas area operasi di perairan Selat Sunda. Pencarian melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, relawan serta pihak terkait lainnya.
Namun, setelah operasi pencarian dilakukan selama 10 hari, Basarnas secara resmi menghentikan operasi pencarian pada 18 September 2026 setelah belum menemukan delapan orang yang hilang. Meski operasi SAR resmi dihentikan, upaya pencarian secara mandiri oleh sejumlah pihak, termasuk insan pers dan masyarakat, masih dilakukan.
Dewan Pers Serukan Keselamatan Jurnalis
Dewan Pers sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan terkait pencarian lima jurnalis tersebut. Dewan Pers mengajak seluruh insan pers di Indonesia untuk memanjatkan doa serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang masih menunggu kepulangan mereka.
Dewan Pers juga menegaskan pentingnya keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama ketika melakukan peliputan di wilayah bencana atau kawasan yang memiliki potensi bahaya.
Dalam pernyataannya, Dewan Pers menyerukan agar jurnalis yang bertugas di medan bencana mematuhi batas zona aman yang ditetapkan otoritas, menggunakan perlengkapan keselamatan yang memadai, serta berkoordinasi dengan petugas penanggulangan bencana di lapangan.
Pada Senin (21/9/2026), Dewan Pers juga menggelar doa bersama dan aksi solidaritas di Jakarta. Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menyebut kelima jurnalis tersebut sebagai pahlawan pers karena menjalankan tugas untuk mendapatkan informasi dan gambar terbaik bagi masyarakat.
KJJTI Malang Raya Satukan Doa
Naning mengatakan, doa bersama yang dilakukan KJJTI Malang Raya merupakan bentuk persaudaraan sesama insan pers. Menurutnya, keluarga para jurnalis saat ini membutuhkan dukungan dan kekuatan menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
“Semoga dengan doa bersama serentak dari rekan-rekan media di seluruh negeri, kelima rekan kita ini lekas ditemukan dalam keadaan apa pun. Semoga pula pihak keluarga diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan yang luas,” lanjut Naning.
Ia berharap pencarian terhadap kelima jurnalis tersebut tetap menjadi perhatian bersama. Dukungan masyarakat juga diharapkan terus diberikan kepada keluarga serta pihak-pihak yang masih melakukan upaya pencarian.
Peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tugas jurnalistik di lapangan memiliki risiko, khususnya ketika dilakukan di wilayah yang sedang mengalami aktivitas alam berbahaya.
Bagi KJJTI Malang Raya, doa bersama bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama pekerja pers yang sedang menjalankan tugas.
“Semoga Allah SWT memberikan pertolongan, memberikan kekuatan kepada seluruh keluarga, dan memberikan jalan terbaik bagi saudara-saudara kita yang hingga kini masih dalam pencarian,” harap Naning.
Hingga Senin (21/9/2026), keberadaan lima jurnalis tersebut masih belum diketahui. Keluarga dan rekan-rekan sesama jurnalis masih menyimpan harapan agar mereka dapat ditemukan dan mendapatkan kepastian atas nasib masing-masing.
Pewarta: Nur hasan
Related Articles